AYAH, I LOVE YOU UNTIL THE UNLIMITED TIME

Bagaimana bisa aku lupa setiap apa yang sudah ayah ucap?
Bagaimana jika kita berpisah lebih jauh lagi? Jauh yang benar benar jauh, di luar jangkauan.
Bagaimana jika aku yang baru mengenal ayah selama 17 tahun harus diputus ruang dan waktu? Bertemu di ruang rindu lewat jembatan do’a.
Sanggupkah aku menanggung rasa bersalah karena belum bisa apa apa, belum bisa menjadi siapa siapa, dan belum bisa memberi bukti kepada ayah?
Bagaimana jika waktu ayah dipanggilNya tidak bisa ditunda lagi?





Ayah, semua pertanyaan ini menampar pipi ku, menghentikan langkah ku, memacu denyut jantung ku, menggertakkan gigi ku, memutar semua memori kita.

Apalah arti jauh di bumi. Toh jarak masih logis untuk dihitung secara matematis. Lalu, sebelum maut menghukumku dengan rasa bersalah, ku akan sesemangat apapun ketika Allah masih berbaik hati mempertemukanku dengan ayah di Bumi.

Demi Bumi yang menerima pijakan kakiku, akan ku luangkan waktu ini demi ayah. Setiap langkahnya ku perhitungkan bukan demi aku, namun demi ayah. Thanks for having me. Thanks for helping me, dad.

Demi angin tropis yang membelai di musim hujan akhir tahun, akan ku lawan dingin ini dengan sengaja membiarkan sweater tetap terlipat di dalam lemari, seperti aku yang melawan ego berada di zona nyaman layaknya impian banyak anak di dunia untuk dibersamakan dengan ayahnya setiap hari. Aku yakin, berada di luar zona nyaman di mana aku berada saat ini adalah zona paling tepat untukku memantapkan struggle yang sesungguhnya.

Ku maafkan segala ketidakhadiran ayah di hari hari penting bagi fafa kecil dahulu. Disetiap hari pengambilan raport, di setiap sungkem lebaran, atau di hari hari ulang tahun ku. Aku bahagia masih bisa berkomunikasi via telepon.

Tere Liye mengatakan dalam novel Rindu, “Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan kenginan memiliki, maka sebesar apapun wujud kehilangan, kau akan siap menghadapinya.” Sama seperti aku yang belajar untuk mengendalikan rasa rindu ingin bertemu ayah, maka ketika ayah memang batal pulang libur akhir tahun ini, ku akan siap untuk menanggung jauhnya jarak kita dan terbatasnya waktu pertemuan kita lebih lama lagi.

Ayah tau? Sekarang aku tenang saat kemarin dalam percakapan telepon ayah mengatakan “Ayah sudah titipkan mbak Fafa, mamah, dan adek ke Allah.” Aku tau ayah tidak risau lagi dengan keamanan kita karena mempercayakan penjagaan atas ku, mamah, dan adek kepada Dzat yang terpercaya, Maha Menjaga, Maha Memelihara.

Ayah yang sangat sangat ku kagumi mengajarkan point optimisme dalam hidup, meski ayah tidak pernah menjelaskan dan menuntunku ke arah itu, aku dapat menangkapnya dengan naluriku. Bagi ku ketika ayah mengatakan kekecewaannya bukan karena beliau benar benar kecewa, namun mungkin hati ku yang kurang lembut. Maafkan aku yah.. Hati ku kurang peka, pikiranku hanya dipenuhi ambisi.

Pilihan jurusan kuliah yang ayah percayakan untuk aku memilih, selalu ku kembalikan ke ridho ayah yang aku cari. Aku yakin di situlah kedamaian hati dan ketentraman pikiran akan dianugerahkan kepada ku. Dahulu aku yakin ayah sepakat jika aku percaya diri memilih jurusan terbaik di universitas negeri yang bergengsi, namun ternyata tidak.

Saat itu aku merasa ayah salah, ayah yang ku kira selalu mendukung optimisme ku dan membangun masa depan indah, ternyata hanya sebuah harapan palsu. Kau tahu bagaimana rasanya diajarkan optimisme sedari kecil, namun ketika puncaknya mewujudkan apa yang selama ini diajarkan justru semua langsung dihamburkan, dijadikan sebatas ilusi dan bayang bayang? Aku jatuh sejatuh-jatuhnya. Ntah suatu saat nanti, ayah yang akan mengerti maksud ku atau aku yang akan peka dengan keinginan ayah.

Setelah hari hari berlalu dengan malam malam panjang penuh pemikiran. Ada titik di mana aku yang merasa sendiri dan baru menyadari. Di mana rasa peka yang dahulu dihadirkan oleh ayah? Peka aku minta gendong, peka aku pingin es krim, peka aku sudah lelah jalan jauh, peka aku takut badut atau barongsai, misalnya.

Masa masa ini akhirnya datang juga, bukan ayah yang mengerti, ternyata aku. Aku yang salah. Aku salah karena yang aku pelajari bukan tentang optimis, tapi ambisius. Aku sudah kehilangan sorot mata kasih sayang teman-teman tanpa aku sadari. Ternyata menyalahkan ayah meski hanya di hati sudah membuatku sesak dan terhimpit di antara banyak orang yang tidak peduli.

Untuk hal yang lain saat ayah bilang, “Ayah engga melarang mbak fafa untuk apapun, karena ayah tahu mbak udah paham hukumnya bagaimana. Jadi, jangan menyalahgunakan kepercayaan ayah.” Ayah, maafkan aku. Meski berkali kali ayah bilang ‘engga pa-pa, mbak’. Terimakasih karena ayah mengingatkan aku sebelum aku benar-benar menyalahgunakannya, meski aku tahu itu tidak akan terjadi.

Bukan karena aku terlalu dilenakan dengan kebolehan-kebolehan yang ayah beri. Bukan karena aku merasa ayah berada jauh dan terasa tidak mengawasi. Bukan karena siapa ‘dia’ yang baik hati, ku pastikan ‘dia’ tidak akan berusaha menggantikan posisi ayah di hatiku. Karena memang tidak bisa dan tidak akan pernah bisa. Yang ada hanya aku yang belum merengkuh kedamaian tulusnya cinta ayah.

Lelaki mana yang mau sejelek apapun riasan wajahku, ntah senorak apapun selera fashionku, ntah seaneh apapun rasa masakan sesederhana mie goreng buatan ku, atau seburuk apapun rupa tubuhku, tetap mendukung seolah menutup telingaku dari cuitan orang yang mengata-ngatai, selain ayah?

Apakah ada alasan untuk tidak membalas cinta ayah? Coba sebutkan! Apakah ada alasan untuk memaksa ayah hanya mengerti keadaan kita tanpa mau mengalah? Kita cuma perlu peka. Seberapa banyak lagi keringat ayah yang mau kita peras demi memanjakan kehausan kita untuk hidup serba enak dan terpenuhi? Sesekali mencoba prihatin. Kalau tidak sempat menjadi anak yang bisa dibangga-banggakan, setidaknya tidak menyusahkan. Meski tidak akan tega ayah mengatakan dirinya terbebani oleh kita. Kita juga perlu sadar diri dan peka.

Ayah, ku mohon tetaplah seperti ini. Jangan membuang muka dan selalu membimbingku.  Perjalanan kemantaban pikirku tidak secepat membaca tulisan ini. Fafa yang masih kecil ini sedang menuju ke pendewasaan diri.

Ayah, terimakasih karena sudah dan akan terus menjadi ayah yang mencintai ku dengan sempurna. Aku tidak melihat dengan jabatan yang engkau raih dan segannya orang lain menghormatimu. Ayah, terimakasih karena tanpa engkau sadari aku belajar banyak untuk optimis, peka, sederhana, tulus, syukur, bekerja keras, dan ikhlas.

Ayah, engkau tetap ayah yang selalu menumbuhkan rasa syukurku. Aku yakin suatu saat nanti kepercayaanku terhadap ayah benar-benar membawa kelegaan yang hakiki, karena bahagia tercipta dari rasa syukur, lega, dan kepercayaan.

Ayah, aku akan sedikit menabrak kaidah bahasa, bahwa aku selalu amat sangat rindu sekali banget sama ayah. Ayah, you are my very first love.

Ayah, semoga engkau selalu ada dalam kasih sayang dan rahmat Allah pada setiap harinya. Semoga barokahNya selalu tercurah pada hari ayah lahir, pada hari ayah dipanggilNya, dan pada hari ayah dibangkitkan.

Semoga fafa cukup berbakti untuk dikatakan sebagai anak sholihah agar do’a untuk ayah ini dikabulkan Allah. Semoga jauhnya jarak kita di dunia dan sempitnya waktu pertemuan kita diganti dengan hadiah berkumpulnya kita di surga kelak ya, yah... Aamiin





AYAH, I LOVE YOU
UNTIL THE UNLIMITED TIME

6 komentar:

  1. Jadi ke inget sama ayah dirumah. thanks fafa udh ngebukain mata hatiku agar lebih sayang kepada seorang ayah ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Artikelnya bukan bermaksud menggurui kok, semoga kamu bisa ambil manfaatnya sebanyak pelajaran yang ku dapet yaa

      Hapus
    2. Makasih udah baca, nongol, dan kasih komen :)

      Hapus
    3. Iya mbak.
      Tapi Salah pake akun ngomennya 😂

      Hapus
  2. Hadeuh Ayah jadi nangis semalaman baca artikel Mbak Fafa ini...Love You Mbak Fafa

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.