PERMAINAN DUNIA
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Gue bingung, kenapa orang orang kita masih belum paham bahwa
toleransi terhadap perbedaan itu sangat mungkin dilakukan. Kenapa mereka lihay
kalau diburu untuk berkomentar pedas? Ancaman keberagaman yang nyata menjadi
tantangan kita, karena opini publik yang tersaji di media sangat menentukan ke
mana bangsa ini mengarah.
ANONYMOUS
Apa orang
sekarang itu terlenakan oleh permainan dunia? Banyak orang
yang punya beragam pendapat, namun mengritik hanya berani di belakang kardus, di
belakang nama anonymous. Lagi pula, internet sendiri memampukan kita
sebagai pengguna untuk kritis terhadap problema di dunia tapi sebaliknya juga
memupuk sifat pecundang.
Bagus memang
kalau kita semakin peduli dengan sekitar, semakin bertambah pengetahuan kita,
semakin sedikit orang gaptek di dunia ini, tapi sekarang tuh orang-orang cuman senang
mencari yang seru seru, mencari yang heboh yang mereka pandang asik lantas
berkomentar seakan menyajikan berita baru. Menyudutkan omongan orang yang
mereka anggap kuno, mereka anggap engga ‘zamannya lagi’, mereka anggap
berlebihan buat dilakuin di zaman milenium kayak sekarang.
Lihat saja
sekarang maraknya akun akun social media, Instagram misalnya, yang
isinya cuman nyinyiran soal omongan orang (litterally orang yang
bener-bener, bahkan seorang penggiat sosial sekalipun). Isi akunnya cuman
sekelompok orang yang seru banget mencari kekurangan orang. Keberanian yang
sebatas hanya ngumpul bareng orang-orang yang satu pendapat di akun sampah.
WARTAWAN KESIANGAN
Orang orang
kita sekarang ini seakan membawa berita baru, seperti seorang wartawan kesiangan.
Baca juga penjelasan yang sama di artikel independen.id berjudul
Indonesia dan Hari Pers Sedunia 2017. Bahwa orang sekarang seringnya mencari
informasi yang membenarkan pendapatnya, bukan mencari informasi yang benar.
Pantas saja, akun akun instagram yang menyajikan kritikan terhadap orang lain
hanya dibanjiri oleh orang yang sama sama suka mencari kesalahan orang lain,
yang cuman mencari info yang membenarkan pendapatnya.
SALAH FOKUS
Ini juga salah
satu ancaman keberagaman. Media sosial disalahtempatkan sebagai wadah mencari
kekurangan orang, menyebar hoax dengan membumbui beritanya agar seolah-olah
‘semakin menjadi’, dan mengadu domba orang untuk pointing sesuatu yang
salah. Generasi kita diajarkan untuk salah fokus terhadap pemberitaan yang
disajikan.
Beritanya
tentang seorang tokoh politik atau polisi yang sedang dimintai pendapat
mengenai permasalan yang up-to-date, tapi orang orang kita bukan pointing
tentang apa yang disampaikan si tokoh itu. Justru ntah yang kemeja si tokoh
kenapa lah, ntah yang (maaf) cara bicaranya gagap lah, atau giginya kuning,
atau ekspresinya yang mereka anggap kocak.
Coy, ini bukan
budaya kita. Ini bukan budaya yang harusnya berkembang akan adanya kecanggihan
teknologi. Di mana sikap menghargai dan baik budi pekerti yang dipelajari 9
tahun di SD SMP? Oke, kita engga sedang ngomongin soal dosa, karena mereka saja
membuang muka dan engga ngeh kalo ngomongin dosa. Siapalah gue yang
berani mengkotak-kotakkan manusia masuk golongan berdosa atau tidak. Justru
malah menebar benih kebencian dan surutnya perdamaian.
HAK KITA PENGGUNA INTERNET
Kalo gue justru
dibilang engga menghargai perbedaan karena adanya orang yang bersikap kurang
bijak di instagram itu, engga menghargai mereka yang ngomong seenaknya sendiri.
Gue mau tanya, sebelum lo komentar apa engga terpikir ‘Omongan gue ini penting
engga?’, ‘Nyakitin hati orang lain engga?’. Padahal kita yang sesama pengguna
internet berhak mendapat display bacaan dan tontonan yang layak, yang
berbudi pekerti, yang bisa jadi contoh yang baik.
Menteri Agama
RI, Lukman Hakim Saifuddin mengatakan dalam pidatonya, “Ada gejala
‘kedermawanan’ berbagi info yang tak dibarengi ‘kesadaran’ akan kualitas konten
maupun dampak penyebarannya.” Silakan baca pidato lengkap beliau di web independen.id
di artikel Orasi Budaya Menteri Agama - Kebhinekaan dan Keberagaman Indonesia.
KEBANGGAAN AKAN KEBERAGAMAN
Nah, sekarang
gue pingin membahas soal kebanggaan gue tentang keberagaman, bukan soal
malesnya gue surfing di social media yang isinya menye-menyean
orang, saling cibir, sampai perang politik.
Menjadi warga
negara yang toleran itu bisa banget kita lakuin. Keberagaman memang sulit
disatukan, karena memang tidak perlu sih menurut gue. Lo mengakui kekayaan
intelektual milik orang atau lo menghargai hasil karya orang. Itu udah keren,
sob.
Keberagaman
pendapat bisa kok jadi kekayaan literasi sekarang. Hal yang perlu kita lakuin
adalah menjadi toleran akan perbedaan pendapat dengan orang lain dan
bertanggung jawab dengan apa yang kita ucapkan. Toleransi yang gue maksud bukan
dengan mencampuradukkan semua pendapat biar dianggap toleran. Bukan,
sodara-sodara.
Kalo lo punya
dua kucing, kucing jawa dikawinin sama anggora hasilnya unyu unyu, tapi bahaya.
Tau kenapa? Itu namanya penjajahan terhadap ras asli kucing tersebut,
penjajahan terhadap kucing jawa juga kucing anggora. Disebut jawa bukan,
disebut anggora bukan. Campuran boleh ada, tapi harus tetap dijaga prinsipnya
(asal prinsip itu baik, engga bertentangan dengan norma, dan engga melanggar
hak orang lain), dijaga ras asli kucingnya.
Coba dibiarkan
saja adanya keberagaman, dibiarkan dan tidak diganggu gugat. Semua tetap aman
dan terkondisikan kok. Jangan coba-coba untuk meleburkan semua perbedaan, biarkan
saja karena itu bakal menjadi aset kita. Kebanggaan kita.
Termasuk
meleburkan pendapat orang agar sama dengan pikiran kita, mustahil. Bukan cuman
soal melanggar hak orang lain untuk berpendapat, juga membatasi berkembangnya
ilmu pengetahuan karena pendapat yang berbeda bisa jadi sekarang lo engga
terima, padahal di masa depan si pendapat bakal dibutuhkan untuk mengubah dunia
menjadi lebih baik. Malu ngga lo?
Diakui atau pun
tidak, kita harus mau bangga bahwa pendapat atau budaya itu memang beragam. Menjadi
generasi yang berbobot pikirnya, lakunya, dan ucapannya dapat mencegah peningkatan
ancaman keberagaman. Generasi antihoax yang tidak salah fokus.
Jangan sampai
keberagaman kehilangan pesonanya! Jangan sampai keberagaman menjadi ancaman kebhinekaan! Peka, damai, dan berbanggalah, kawan-kawan!
و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Tidak ada komentar: