KAWAN BICARA
Setiap apa-apa harus sembunyi-sembunyi?
Jawabannya, engga.
Cinta masa remaja memang suka-suka. You guys gotta do what you really gotta do. Masing-masing dari kita punya hak untuk bebas. Dan ini salah satunya.
Tidak pamer. Tidak mau menjawab. Tidak ingin diketahui. Tidak perlu, tidak perlu, dan tidak perlu. Itu saja. Rasanya ku tidak perlu menjelaskan kenapa tidak ingin semua orang tau. Bukan karena takut hubungannya akan bagaimana atau bagaimana. Sekedar untuk bilang dia suka atau tidak soal diketahui oleh kalian saja aku tidak mau. Tidak mau.
Jangan paksa aku untuk bercerita. Meski sedikit saja.
Aku manusia labil. Labil emosi. Labil di hati.
Baru sekarang aku bisa senang, bisa sesenang ini. Berkenalan, bertemu, akrab, dan punya teman bicara. Aku engga mau muluk muluk. Teman bicara, bukan teman bergosip. Bukan teman makan. Bukan teman tidur.
Jangan tanya apakah dia pendengar yang baik atau yang bagaimana.
Aku manusia labil. Labil emosi. Labil di hati.
Baru saja kubilang tidak mau bercerita, lihat tingkahku barusan. Geli kalau diingat-ingat lagi.
Sudah kubilang aku labil. Tidak tahan lihat mereka yang santun sekarang bahagia dan leluasa berbagi cerita serunya menjadi pengagum rahasia yang sekarang tidak lagi ada rahasia. Lain kawanku lagi yang berpose bahagia bersama kawan bicaranya. Bercerita ngambek dan romantisnya.
Aku pingin juga. Tapi buat apa? Untuk mengimpress mereka? Untuk juga berbagi bahagia? Lagipula apa diaku seperti mereka? Aku tidak ingin cerita.
‘Ah itukan hakmu,, kamu terlalu memaksakan untuk menutupi!’
Wah, kamu salah! Ini juga hak aku untuk memenuhi komitmen. Aku tidak diminta, toh semua aku yang kena.
Memiliki kawan bicara ternyata sangat melegakan. Berkawan dengan limitness time. Seorang yang datang dan berbagi.
“Sssstt diam. Di sini hanya kita. Posisikan aku sebagai apapun. Aku bersedia. Silakan berbicara.”
Buatku, dia lebih dari sekedar kawan bicara.
Jawabannya, engga.
Cinta masa remaja memang suka-suka. You guys gotta do what you really gotta do. Masing-masing dari kita punya hak untuk bebas. Dan ini salah satunya.
Tidak pamer. Tidak mau menjawab. Tidak ingin diketahui. Tidak perlu, tidak perlu, dan tidak perlu. Itu saja. Rasanya ku tidak perlu menjelaskan kenapa tidak ingin semua orang tau. Bukan karena takut hubungannya akan bagaimana atau bagaimana. Sekedar untuk bilang dia suka atau tidak soal diketahui oleh kalian saja aku tidak mau. Tidak mau.
Jangan paksa aku untuk bercerita. Meski sedikit saja.
Aku manusia labil. Labil emosi. Labil di hati.
Baru sekarang aku bisa senang, bisa sesenang ini. Berkenalan, bertemu, akrab, dan punya teman bicara. Aku engga mau muluk muluk. Teman bicara, bukan teman bergosip. Bukan teman makan. Bukan teman tidur.
Jangan tanya apakah dia pendengar yang baik atau yang bagaimana.
Aku manusia labil. Labil emosi. Labil di hati.
Baru saja kubilang tidak mau bercerita, lihat tingkahku barusan. Geli kalau diingat-ingat lagi.
Sudah kubilang aku labil. Tidak tahan lihat mereka yang santun sekarang bahagia dan leluasa berbagi cerita serunya menjadi pengagum rahasia yang sekarang tidak lagi ada rahasia. Lain kawanku lagi yang berpose bahagia bersama kawan bicaranya. Bercerita ngambek dan romantisnya.
Aku pingin juga. Tapi buat apa? Untuk mengimpress mereka? Untuk juga berbagi bahagia? Lagipula apa diaku seperti mereka? Aku tidak ingin cerita.
‘Ah itukan hakmu,, kamu terlalu memaksakan untuk menutupi!’
Wah, kamu salah! Ini juga hak aku untuk memenuhi komitmen. Aku tidak diminta, toh semua aku yang kena.
Memiliki kawan bicara ternyata sangat melegakan. Berkawan dengan limitness time. Seorang yang datang dan berbagi.
“Sssstt diam. Di sini hanya kita. Posisikan aku sebagai apapun. Aku bersedia. Silakan berbicara.”
Buatku, dia lebih dari sekedar kawan bicara.


Tidak ada komentar: