TIDAK TINGGAL DIAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته




Gue belum pernah sekali pun sebelumya mention tentang keresahan dan kejenuhan gue tentang Indonesia. Dua bulan lalu, gue baca buku Anak Anak Angin karya Bayu Adi Persada yang di buku tersebut mengulik kisah asli Indonesia, bukan fiksi. Buku itu sebenarnya udah ‘purba’ rilisnya, tapi engga pa-pa, gue minat, gue baca.

ANAK ANAK ANGIN
Selain kisah anak didik dan effort Bayu untuk memajukan pendidikan setempat, gue tertarik dengan problem kepala sekolah di mana Bayu si penulis mengabdi. Terungkapnya kasus kepala sekolah tersebut dimulai ketika Bayu menemukan banyak stempel toko yang tersimpan di laci meja kepala sekolah tersebut. 




Saat gue baca buku itupun yang terlintas cuman ‘notabene stempel itu engga seharusnya ada di situ’. Awalnya Bayu menganggap hal  itu sebatas angin lalu, namun ketika Bayu mendengar keluhan dan curhatan guru lain di sekolah tersebut mengenai integritas kepala dan birokrasi di sekolah yang seakan remang-remang belaka, mulai muncullah kecurigaan itu.

Kepala sekolah tersebut menggelapkan sejumlah dana pendidikan dari pemerintah untuk pengembangan sekolah dan mengatur masuk-keluarnya uang tidak secara transparan. Jadi, engga ada guru yang membantu bukan karena tidak sadar akan tugas, namun kepala sekolah itu sendiri yang seakan tidak ingin melibatkan orang lain mengurusi keuangan sekolah.

Parahnya adalah bukan hanya seberapa buruk kinerja kepala sekolah tersebut. Tidak adanya yang melapor dan menegur. Guru lainnya yang bekerja di situ pun sebenarnya sudah merasa ada yang tidak beres dari kelakuan kepala sekolah. Tidak ada yang melapor atau setidaknya menanyakan kejelasannya kepada kepala sekolah bukan karena ketidakpedulian mereka, bukan sodara-sodara. Hubungan mereka tidak terlalu sedap (berhubungan baik, tapi tidak dekat) juga menjadi sebab para guru sungkan untuk menanyakan kejelasan dana dari pemerintah.

MERASA TIDAK TERLINDUNGI
Gue jadi mikir, sebenarnya para guru tersebut tidak tahu bagaimana harus bertindak menghadapi kepala sekolah, tidak tahu harus berbuat apa, ditambah tidak berani, dan khawatir terhadap dirinya akan menjadi whistleblower.

Perasaan sendiri dan khawatir akan tekanan? Wajarlah, manusiawi. Mereka mungkin merasa bahwa kebenaran pasti dipihak ‘kanan’, tapi yang mendukung ada nol koma nol persen, alias engga ada. Mereka harus berkorban banyak demi kelegaan mereka sendiri juga demi terpenuhinya hak anak-anak didiknya dan tentang keberlangsungan dana sekolah. Mereka tidak mau menanggung beban sendiri, tidak mau menanggung derita dan menjadi korban satu-satunya. Gue jadi paham kalo mereka merasa tidak ada yang akan melindungi diri mereka sebagai saksi.

TENTANG BAYU
Gue di sini ngelihat Bayu sebagai sosok yang enggak setengah-setengah, coy. Terlihat plus terbaca dari cara dia yang secara baik-baik berbicara kepada guru-guru di sekolah itu. Tampak pula dari cara Bayu mencari kejelasan dugaan ini sampai bisa disebut kasus, tanpa menimbulkan salah paham, kebencian, dan menghakimi tanpa sebab. Tampak dari step yang Bayu tempuh untuk tetap menghargai sifat kedaerahan setempat, toleransi yang dijunjung Bayu gue acungin jempol.

EGOIS
Kalo alasan kita engga menegur orang yang salah sedang kalian tau itu engga boleh dilakuin, bisa jadi kita egois. Kenapa? Jadi begini, lo mau aman tapi engga ngasih orang untuk dapet keamanan juga, lo milih pura-pura engga tau daripada lo disangka pengkhianat sama para ‘tikus’. Apapun itu apalagi kayak kasus di atas engga sekedar memperjuangkan hak perorangan, tapi hak umat.





Jangan egois juga degan alasan ‘lagian toh itu bukan urusan gue, dosa dia bakal balik ke dia juga’. Di mana hati nurani manusia kita?

Sekarang gue tanya, apa bener makin kesini orang makin melumrahkan kejahatan hanya karena ‘tiap orang punya urusannya masing-masing, toh mereka juga yang bakal dapat deritanya’?

Intinya jaman sekarang lo itu dosa banget kalo makin deket sama kebenaran, kalo lo itu adil, kalo lo itu berhati murni dan tulus untuk mengabdi kepada negara engga cuman ambil untungnya aja. Apa jaman sekarang tuh kayak gitu?

DIAM BUKAN PILIHAN
Mereka yang peduli akan lingkungannya, sayang dengan Indonesianya pasti akan merasa punya tanggung jawab untuk saudara sebangsanya. Satu kalimat dari Ali bin Abi Thalib begini,
“Kezhaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tetapi karena diamnya orang-orang baik.”
Hal inilah yang bikin gue speak up dan engga malu buat nyebarin value agama atau seengganya kebaikan untuk semua. Mau beda agama, yuk saling toleransi. Mau beda status sosial, yuk sadari dan ambil baiknya aja.





Diam bukan pilihan karena diamnya kita engga akan bikin kita sendiri nyaman. Senyaman-nyamannya hati, engga akan menghilangkan keresahan. Jangan sampai kita menjadi korban kedua, justru atas pen getahuan kita tentang mereka.

Diam bukan pilihan, jadi jangan biarkan diri kita sendiri yang tau kebenaran akan tindak kejahatan itu bahkan malah menjadi bahan bullying mereka terhadap kita. Berani berdiri di jalan yang benar, insyaaAllah engga bawa malapetaka. Orang baik tetap berpendukung sampai kapanpun. Jangan merasa sendiri untuk berkata jujur dan menanyakan kebenaran biar engga ada ragu dan kesangsian.





HARAPAN GUE
Semoga artikel ini engga hanya menjadi sekedar another post demi berkurangnya keresahan gue tentang Indonesia yang masih begini-begini aja. Gue harap kita makin sehat, makin waras kadar kebaikan kita dari hati, juga makin engga takut untuk melaporkan tindak kriminal dan diskriminasi apalagi dari orang-orang munafik.


Oleh karena itu, laporlah kepada LPSK!













AKHIR KATA





Kita adalah orang baik, gunakan takdir yang Allah beri akan kebaikan hati kita untuk melapor, karena mengingatkan mereka saja tidak cukup. InsyaaAllah kita akan baik-baik saja. Gue bersama kalian yang berbaik hati. Gue yakin ridho Allah menyertai tiap senti kehidupan orang yang baik dan luhur budi pekertinya. Semoga kita adalah salah satunya.


و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.